"GELAP",,, hal itulah yang jalal rasakan saat ini, ia menatap sekitarnya dengan panik.
"dimana jodha,??? dimana keluarga ku,??? kenapa aku sendirian disini,??? " Jala mencoba berjalan. Berharap menemukan setitik cahaya dalam kegelapan itu,
Harapannya terkabul, didepan sana jalal melihat setitik cahaya. Ketika ia semakin dekat, cahaya itu semakin besar layaknya sebuah terowongan, jalal masuk kedalamnya. Hal pertama yang ia lihat ketika keluar dari terowongan adalah sebuah taman yang indah dengan sungai-sungai yang mengalir jernih. Burung-burung yang bersiul dengan suara merdu, serta bunga-bunga yang bermekaran layaknya dimusim semi. Jalal terpana, tempat itu begitu indah dan terasa begitu nyaman dan menenangkan. Beberapa hewan mungil berlarian ditaman itu,jalal menghampiri seekor kelinci putih lalu menggendong kelinci itu dengan gembira. Kelinci itu menggerak-gerakkan telinganya dan mengendus-endus wajah jalal dengan hidungnya,
Jalal tertawa, "tempat ini sangat indah. Apa ini adalah surga.??? gumamnya, namun ia terdiam.
"kalau ini surga,!!! Apa aku telah mati,??? Lalu bagaiman dengan orang-orang yang aku tinggalkan,??? " bathin jalal.
"kau menyukai tempat ini.???"
Jalal berbalik,tetesan bening mengalir begitu saja ketika mengetahui siapa yang tadi berbicara kepadanya. Rasa rindu yang begitu membuncah membuat jalal berlari menghampiri sosok itu.
"ayah,,," tangisnya seketika pecah. Sosok itu begitu nyata,bahkan ia bisa merasakan hangatnya pelukan sang ayah.
"aku rindu ayah,,,aku merindukan mu, "
"ayah juga jalal. Ayah juga merindukan mu, " humayun membalas pelukan sang buah hati.
"kenapa meninggalkan ku, ayah,???"
"maafkan ayah nak. Maafkan ayah,,," ujar humayun sambil menepuk-nepuk punggung jalal.
Jalal semakin keras terisak, ia memeluk ayahnya dengan erat. Dia takut, jika ia melepaskan pelukannya, maka sang ayah akan menghilang begitu saja,
"jangan tinggalkan aku lagi."
Humayun tersenyum, ia mengusap kepala jalal degan lembut.
"kau tidak merindukan ibu mu.???" tanya humayun.
Jalal mendongak, ketika ia mengalihkan pandangannya kesamping, hamida ibunya telah berdiri disana dengan senyuman hangatnya,
"ibu,,," jalal beralih kepelukan ibunya. Rasanya begitu menenangkan ketika ia kembali bisa berkumpul dengan kedua orang tuanya. "BAHAGIA" ,,,Satu kata yang tidak bisa ia lukiskan.
"aku benar-benar merindukan saat-saat seperti ini, " isak jalal.
Hamida membalas memeluk putranya dengan erat, " ibu juga merindukan saat-saat kita bisa berkumpul lagi bersama ayahmu seperti ini jalal, "
*****
Jodha menatap jalal yang masih terbaring koma,jika jam 7 malam nanti dia belum juga bangun, maka dokter akan segera melakukan operasi saat itu juga. Tinggal 3 jam lagi, jodha berharap jalal segera sadar.
"sayang,,, apa kau begitu menyukai kegelapan.?? Kenapa tidak kembali padaku.??? Apa disana begitu indah sehingga kau begitu betah untuk berlama-lama.??? Aku mencintaimu, suami ku. Kembalilah padaku, aku mohon,,,"
Jodha terisak bahunya berguncang-guncang tapi air mata itu tidak ada, hingga dadanya terasa sakit dan sesak. Bibirnya tak henti-henti menciumi jemari suaminya. Sakit, ia sangat sakit ketika melihat sosok pria yang sudah mengisi penuh ruang hatinya itu harus terbaring lemah seperti ini. Dia ingin kembali merasakan kehangatan jalal,merasakan sentuhan lembut pria itu, mendengarkan alunan indah dari suara merdunya saat sedang mencumbunya dan suara menyebalkan saat sedang menggodanya. Terlebih, jodha merindukan senyuman hangat penuh cinta dari jalal,
"cepatlah bangun. Jangan tinggalkan aku sendirian, sayang. " lirih jodha.
Hamida yang tadi ingin masuk,jadi mengurungkan niatnya.
"ya ,allah,,,semoga engkau punya rencana indah dibalik semua kepedihan ini. Suami ku,,,aku berharap kau juga akan menolong anak kita dari atas sana,,amiiin,,," bulir-bulir bening itu jatuh kembali membasahi kedua pipi yang telah nampak kerutan-kerutan tanda penuaan walau masih agak samar.
*****
Jalal berlarian mengejar kelinci mungil yang beberapa waktu ini terus menemaninya, dia tidak tau sudah berapa lama ia ditempat ini. Tidak ada kegelapan, tempat ini selalu terang benderang,
"ibu,,,apa ayah tinggal disini.???" jalal yang tengah menggendong kelinci itu menoleh pada hamida yang duduk diayunan taman. Hamida tersenyum sambil mengangguk,
"bisakah aku dan ibu tinggal disini bersama ayah.??? Aku ingin tetap bersama ayah ibu, " jalal menatap ibunya penuh harap. Hamida tertawa, dia kemudian berjalan mendekati jalal, mengusap rambut gondrong putranya dengan lembut,
"kau yakin, sayang.??? Disini hanya ada ayah mu. " wanita paruh baya itu melirik sekilas kearah suaminya yang berjalan menghampiri mereka,
"kita masih punya orang-orang yang menunggu kita, sayang. Apa kau lupa, kau sudah punya istri dan dia sekarang sedang sangat khawatir dan sangat merindukan mu, nak,,,"
Jalal terdiam sesaat,kemudian bibir tebal itu berucap lirih, "jodha,,,"
"iya sayang,kembalilah. Kau harus ikut bersama ibu nak, jodha istrimu tengah menunggumu saat ini. Suatu hari nanti, jika kita sudah benar-benar telah lelah dengan kehidupan disana, maka kita akan kembali kesini bersama-sama lagi dengan ayahmu ,tempat ini dan juga ayah mu akan selalu menerima kita sayang. Tapi belum untuk saat ini, humayun tersenyum lembut,
"ibumu benar sayang. Kalian belum seharusnya tinggal disini bersama ayah, jadi kau pulang lah bersama ibumu. Istrimu menunggu disana, dan jangan lupa sampaikan salam ayah pada menantu ayah itu, katakan kalau ayah sangat percaya untuk menitipkan dirimu padanya, "
"ayah,,,"
"kembalilah, jalal. Ikutlah bersama ibumu, dia menunggumu,!! Jangan biarkan gadis sebaik dia terluka lebih lama lagi. "
Jalal terisak. Yaa,,,ia masih punya seseorang yang menunggunya. Seseorang yang kini telah memiliki hatinya,
"ayah,,,ibu,,,aku ingin kembali. Bawa aku pulang bersama mu ibu, " ujar jalal sambil masih terisak. Hamida tersenyum,
"tentu sayang,,,ayahmu akan menunjukan jalannya pada kita, "
"lalu bagaimana jika aku merindukanmu ayah,???"
Humayun memeluk putranya, " ayah ada disini jalal, " humayun menunjuk dada jalal,
"meski kau nantinya tidak akan pernah lagi melihat ayah. Tapi percayalah, sayang, ayah selalu ada disisi kalian berdua, " humayun melirik istrinya sambil tersenyum lembut yang dibalas hamida dengan senyuman lembut pula. Jalal semakin terisak, tangisnya semakin keras ketika ayahnya orang yang selama ini ia rindukan memeluknya dengan hangat.
"kembalilah,,,kau punya kehidupan yang lebih bahagia lagi, sayang. Percayalah pada ayah,wanita itu tidak akan pernah mengkhianatimu dan jika dunia mengkhianatimu, maka wanita itu akan mengkhianati dunia karena dia tidak akan menyia-nyiakanmu, sayang." humayun meyakinkan jalal. Jalal mengangguk,
"satu lagi,,,buang dendam dihatimu, nak. Ayah sudah bahagia disini, jangan buat ayahmu ini menderita disini, walaupun grup JA ayah dirikan dengan titik darah dan keringat ayah sendiri. Tapi kau jangan lupa jalal,,,semua yang ada di muka bumi ini hanya allah SWT yang punya hak mutlak. Allah-lah yang menciptakan dunia dan isinya,maka allah juga yang berhak untuk mengakhiri dunia dan segala bentuk sandiwara didalam dunia, " tambah humayun, dan ia sedikit memberi siraman rohani pada jalal, agar putranya itu tidak akan dikuasai oleh dendam.
"iya ,ayah. Aku aka tanamkan semua yang ayah katakan tadi didalam hati dan pikiranku, " ujar jalal tegas. Hamida dan humayun tersenyum bahagia mendengarnya.
*****
Jodha membenamkan wajahnya kepunggung tangan jalal. Entahlah, ia tidak tau sudah berapa lama atau berapa kali melakukan hal itu, menangis, kemudian merenung dan kadang tertawa sendiri. Berharap sang suami segera membuka matanya, sedangkan hamida,orang tuanya dan juga moti hanya bisa menelan kepahitan, miris melihat penderitaan jodha,
"suamiku,,,bangun, sayang. Aku berjanji, jika kau bangun aku hanya akan memperlihatkan kebahagiaan padamu. Kita juga akan selalu bersama-sama menghabiskan setiap waktu, atau kau mau berbulan madu.??? Kau ingin punya anakkan,??? Aku akan mengabulkan semuanya, sayang. Tapi ku mohon, bangunlah. " jodha entah untuk yang keberapa kalinya mencoba mengajak jalal berbicara,
"HENING" ,,,tetap seperti itu. Hanya suara dari monitor serta alat-alat yang terpasang ditubuh jalal yang menjawab semua ucapan jodha,
Jodha mendongakkan kepalanya untuk melihat jam didinding. Satu jam lagi, jika jalal tak kunjung bangun, maka dokter akan kembali mengoperasinya. Membayangkan benda tajam itu akan kembali menggores kulit suaminya, membuat jodha benar-benar tak tega. Harus berapa banyak lagi tubuh suaminya itu ternodai oleh bekas luka serta jahitan,
"jangan tinggalkan aku..." lirih jodha.
"aku tidak sanggup jika hidup tanpamu. Bangun, sayang... aku punya impian indah bersamamu. Kita akan membangun keluarga kecil yang bahagia. Aku mohon... bangun, sayang."
Jodha terisak kembali dan kali ini air mata itu ada,keluar deras dari sudut matanya. Bibirnya mencium lama punggung tangan jalal hingga air mata itu jatuh membasahi punggung tangan jalal. Setelah cukup lama dengan posisi itu,ia kembali menatap sayu pada wajah jalal. Matanya terus memperhatikan kelopak mata tajam milik suaminya dan kemudian dengan perlahan kelopak mata itu mulai bergerak. Jodha tertegun,
"BERGERAK,???
Perasaan lega memenuhi ruang hatinya. Tepat ketika mata tajam itu terbuka, jodha memencet tombol untuk memanggil dokter.
*****
"luka luarnya sudah mulai mengering." dokter tersenyum lembut. Dia memeriksa luka dikaki kiri jalal dan mengatakan kalau luka itu sudah sembuh. Hamida,meinawati,barmal,moti serta yang lainnya tersenyum lega. Jodha adalah orang yang paling merasa bahagia saat itu,
"hanya saja, luka dalamnya masih butuh perawatan lama. Bagaimanapun juga peluru itu meninggalkan bekas luka bakar dibagian kulit jantungnya." lanjut dokter,
"butuh waktu berapa lama dok,???" jodha meremas lembut jari jalal yang berada dalam genggamannya. Dia bisa merasakan betapa tegangnya jalal saat ini.
Sudah tiga minggu sejak jalal sadar, selama tiga minggu itu pulalah ia harus tetap berbaring diranjangnya. Sesekali jodha akan membantunya duduk agar punggungnya tidak lecet dan itupun diiringi ringisan kesakitan dari jalal,
"satu atau dua bulan." Dokter menarik nafas berat.
"luka yang dideritanya cukup parah. Beruntung hanya menggores jantungnya karena saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika peluru itu menembus jantung."
Jodha kembali meremas tangan jalal. Yaa,,,beruntung tuhan masih memberikan kesempatan kedua pada jalal. Jika tidak, mungkin saat ini jalal sudah berada dialam lain meninggalkan jodha dan semua yang ia cintai didunia ini.
"jangan takut." lanjut dokter lagi.
"jika dirawat dengan baik, luka itu akan cepat sembuh." sosok berseragam putih itu kembali tersenyum hangat.
Jalal tersenyum canggung. Jujur saja, ketika bernafas ia masih merasakan dadanya ngilu, seolah jantungnya ditancapi puluhan paku beracun.
"minum obat yang teratur." dokter kembali melanjutkan.
"dengan begitu lukamu akan cepat mengering."
"sukriya,,dokter, " ujar jalal tersenyum.
Ketika dokter keluar, jalal menghembuskan nafasnya dengan pelan. Dia melirik jodha yang terlihat tengah berpikir serius.
"ada apa,sayang,,,? "
Jodha menggeleng. Hamida dan meinawati sama-sama mengelus sayang kepala putri mereka itu,
"iya nak,,ada apa.??? Bukankah seharusnya kau bahagia sekarang ,karena jalal sudah terlepas dari kematian,!!! " tanya hamida,meinawati tersenyum sambil mengangguk pelan. Jodha tersenyum,
"maafkan aku. Aku merasa bersalah,seharusnya waktu itu aku lah yang terbaring dikasur ini dan bukan dirimu, "
"ssssttt..." jalal meletakkan telunjuknya dibibir jodha.
"jangan menyesali apa yang terjadi, semua ini sudah bagian dari rencana allah, sayang."
Hamida membenarkan ucapan jalal,begitu juga yang lainnya. Kemudia semua orang meninggalkan sepasang suami istri itu.
*****
"aku mencintaimu." jodha menatap dalam manik mata tajam namun tengah menatap lembut padanya sekarang.
"kau tau... aku lebih mencintaimu. Sayang,,," ujar jalal penuh cinta.
Jodha tertawa. "tidurlah, kau masih harus banyak istirahat."
Jalal mengangguk, dia hanya menurut ketika jodha membantunya memperbaiki posisi tidurnya. Tapi saat jodha hendak beranjak menuju sofa, jalal menahan tangannya. Jodha bertanya apa ada yang dibutuhkan lagi oleh jalal, senyuman nakal menghiasi wajah jalal.
"iya,,,aku masih butuh sesuatu. Aku ingin kau tidur disini, " jalal menepuk-nepuk tempat kosong disisinya.
"aku ingin kau tidur disisiku, didalam dekapan ku malam ini, jodha, "
"bagaimana aku bisa tidur disitu,!!! Maksudku,,,ranjangnya kan kecil, " ujar jodha.
"tapi,kurasa cukup besar kalau hanya untuk kita berdua. Lagipula ,tidak perlu ranjang yang besar karena kita juga tidak pernah ingin tidur dengan jarak yang berjauhankan,???" jalal kembali melemparkan senyuman nakal dan kali ini disertai kedipan sebelah matanya. Jodha tersipu karena mengerti dengan arah ucapannya suaminya sekarang,
"emmm,,,baiklah. Tapi jangan salahkan aku kalau saat aku tidur nanti aku akan menyenggol lukamu dan membuatmu kesakitan, " jantung jodha mulai tidak teratur,
Jalal tersenyum dan menarik jodha agar cepat naik keatas ranjang. Jodha dengan hati-hati berbaring disisi suaminya dengan posisi berbantalkan lengan suaminya,dan itu adalah hal yang tidak akan berubah sampai kapanpun,
"maafkan aku,karena telah membuatmu khawatir dan ketakutan begitu lama, sayang, " ujar jalal, jari telunjuknya menelusuri wajah jodha,matanya menatap sayu dan ada pancaran rasa bersalah disana.
"sssstttt,,," jodha meletakkan jari telunjuknya dibibir jalal.
"seperti katamu, ini adalah sebagian dari rencana tuhan. Kita tidak boleh meratapinya lagi, "
Jalal mengecup puncuk kepala jodha, " iya sayang. Tapi aku ingin menanyakan sesuatu padamu,???
"hemmm,,,katakan, " ujar jodha meraih tangan jalal lalu mengecupnya lembut,membuat jalal mengerang tertahan. Karena bagaimana-pun juga,mereka sudah lama tidak bersentuhan pisik dalam situasi seperti saat itu,
"ruqaiya,,,dimana dia,??? Aku tidak menyangka dia akan melakukan hal tak termaafkan seperti itu, " ada nada kemarahan dalam ucapannya, jodha untuk sesaat hanya diam dan jujur dia tidak mau membahas tentang ruqaiya. Tapi ruqaiya juga punya andil besar dalam menyelamatkan jalal,
"sehari sebelum kau sadar. Ruqaiya telah berangkat ke amerika,ia bilang akan tinggal bersama dengan bibi gulbadhan. Dia menitipkan salam untuk mu dan juga permohonan maafnya. Aku harap kau mau memaafkannya karena dia turut andil dalam menyelamatkan nyawamu. Ruqaiya mendonorkan darahnya untuk mu karena saat itu kau kehilangan banyak darah,dan aku menyesal karena tidak dapat melakukan apapun untuk menolongmu, " bulir-bulir bening itu meluncur turun dari kelopak mata indah jodha. Jalal mengusap air mata jodha,
"sudahlah,,,jangan sedih lagi. Kau lah yang punya andil besar dalam penyelamatan ku ,sayang,,," ujar jalal. Jodha menautkan alisnya ,tidak mengerti dengan ucapan jalal karena ia tidak melakukan apa-apa,
"seseorang menitipkan salam untukmu sayang dan orang itu juga sangat percaya untuk menitipkan ku padamu, "
"boleh aku tahu,siapa orang itu,??? " tanya jodha sangat penasaran. Jalal menarik jodha lebih dalam, lalu ia menceritakan apa yang ia alami selama ia koma dan jodha sangat terharu mendengarnya,
"aku tidak percaya ,ayah bisa begitu sangat percaya padaku, " jodha tidak bisa mencegah air mata yang semakin deras mengalir dipipinya,
"kau orang yang memang pantas diberi kepercayaan sebesar itu ,sayang. Mungkin wanita lain sudah meninggalkan ku saat aku jatuh miskin seperti ini,apalagi keadaan ku saat itu tidak bisa dipastikan apakah masih akan sadar atau tidak. Tapi kau tetap berada disisiku dan dengan setulus hati mau mengurusku, "
"CINTA SEJATI,,,bukan cinta saat sedang sehat saja,bukan cinta saat sedang berjaya,dan bukan cinta hanya karena harta. CINTA SEJATI, adalah cinta sepanjang masa dan cinta apa adanya. Tidak peduli diwaktu sakit,kaya ataupun miskin. CINTA SEJATI adalah cinta yang tumbuh dari hati, "
"ayah benar-benar tidak salah menilai mu, sayang, " jalal memeluk jodha dengan sangat erat. Lalu ia mendorong sedikit tubuh jodha agar tercipta sedikit jarak diantara mereka. Lama ia memandangi wajah cantik milik istrinya itu,membuat jodha tersipu dan merona dan saat jodha hendak memalingkan wajahnya. Jalal cepat menahan dagunya dan mulai mendekatkan wajahnya,kening mereka menempel begitu juga hidung keduanya,hingga akhirnya jodha merasakan material lembut itu menyentuh bibirnya kemudian melumatnya perlahan dengan penuh kelembutan.
Jodha dengan ragu-ragu membalas lumatan suaminya,ia membuka sedikit mulutnya memberi celah agar lidah jalal bisa masuk dan bermain disana. Lidah mereka saling melilit dan menggelitik,hingga gelenyar-gelenyar kenikmatan mulai berteriak meminta lebih. Ciuman yang tadinya hanya sekedar pelepasan rasa rindu yang mendalam selama ini,kini berubah menjadi ciuman yang sangat bergairah. Hingga pada akhirnya jalal merasakan dadanya nyeri karena oksigen mulai menipis,dengan terpaksa ia harus menghentikan ciuman panas mereka. Dengan nafas terengah-engah mereka saling menatap dalam sambil berlomba untuk menghirup udara sebanyak yang mereka bisa.
"apa dadamu kembali terasa sakit, ???" tanya jodha khawatir,saat melihat jalal mengernyit menahan sesuatu,
"iya,,dadaku nyeri saat oksigen yang aku hirup menipis, "
Jodha perlahan memajukan wajahnya kearah jalal. Jalal yang masih terengah-engah dan menahan sakit didadanya mengira jodha akan menyiksanya lebih dari sekarang. Dia mengira jodha akan kembali menciumnya,tapi ia salah karena jodha hanya membisikan sesuatu ditelinganya yang membuat senyumnya merekah seperti bunga mekar di pagi hari,
"kita akan melanjutkan semua ini ,setelah kau sembuh. Bukankah aku juga pernah menjanjikan hal aeperti ini dipagi hari sebelum kejadian pahit itu terjadi,!!! Dan aku akan melunasi ssmuanya saat kau benar-benar sudah pulih , " jodha mencium sekilas bibir jalal. Jalal tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, dan meminta jodha tidak akan lupa pada janji nya itu dan jodha tanpa malu-malu seperti biasanya dengan tegas menyanggupi. Malam itu,mereka hanya tidur dengan saling memeluk erat satu sama lain.
*****
Malam itu,jodha sedang berdiri dibalkon kamar mereka sambil memandangi cahaya bulan yang indah. Yaa,,,sekarang mereka telah kembali kerumah mereka yang lama. Semua akses kekayaan jalal sudah kembali dalam genggamanya, semua itu berkat pertolongan sujamal kakak sepupu jodha. Jalal yang baru saja selesai mandi tertegun saat melihat jodha. Pemandangan didepan matanya itu,sukses membuat jantungnya berhenti bekerja untuk sesaat, gaun tidur dengan tali spagethi yang dikenakan jodha sangatlah tipis, sehingga memperlihatkan siluet tubuh bagian dalamnya dengan hampir sempurna.
Jodha masih belum menyadari kehadiran jalal,yang sedang memandang tak berkedip kearahnya. Tenggorokan jalal serasa kering,syaraf-syaraf peka dalam dirinya mulai menegang. Perlahan ia berjalan mendekati jodha dan memeluknya dari belakang dengan posesif. Membuat wanita itu sedikit terkejut dan menegang seketika saat lidah jalal menjilat lembut daun telinganya.
"ah,,,kau sudah selesai mandi rupanya, sayang, " suara jodha sedikit bergetar karena menahan nafsu gairah yang mulai meletup-letup dalam tubuhnya.
"aku tadi berniat untuk mengambil baju dilemari,tapi kau berdiri disini dengan gaun setipis ini tentu saja menarik langkahku untuk mendekati mu, " jalal mengalihkan tangannya keatas dada jodha memeluk bahunya.
"jadi kau pikir aku sekarang pasti sedang menggoda mu. Iya kan,??? " jodha mengangkat sebelah tangannya dan memeluk kepala jalal.
"lalu,!!! Kalau tidak berniat menggoda,???" jalal merapatkan tubuh mereka,menghilangkan jarak yang ada. Jodha merasakan kehangatan tubuh suaminya. Tangan kanannya ia letakkan diatas tangan kanan jalal yang melingkar dipinggangnya, ia sedikit menolehkan kepalanya agar dapat melihat wajah jalal.
"well,,,kalau aku memang berniat menggoda mu,!!! Apakah itu salah, ???" ada nada sinis disana tapi senyuman yang terukir dibibirnya membuat jalal tidak tahan untuk mengabaikannya,
"tentu saja tidak ,sayang. Aku senang kalau kau menginginkan ku, " jalal melumat agak lama bibir jodha,lalu melepaskannya. Dipandanginya wajah jodha,sinar rembulan yang menerpa membuat wajah itu semakin terlihat cantik.
Dengan perlahan ia mulai mengecup dan menjilat daun telinga jodha kembali, lalu beralih pada pipi jodha mengecup seluruh wajah jodha dan terakhir melumat lembut bibirnya. Hingga membuat jodha harus memiringkan sedikit tubuhnya agar mendapatkan posisi nyaman. Jodha yang tadi hanya diam dan menerima saja kini mulai membalas ciuman suaminya. Ciuman yang semakin dalam membuat ritme ciuman itu sedikit lebih cepat. Tapi kemudian jalal melepaskan ciumannya menenggelamkan kepalanya di leher jodha membuat jodha melepaskan lenguhan nikmat.
Jalal membalikan tubuh jodha,hingga kini menghadap kearahnya.
"aku sangat merindukan mu, " jalal menatap intens mata jodha dengan tatapan yang sarat oleh nafsu yang selama ini tertahankan. Jodha yang sudah hampir melayang diangkasa hanya memandang sayu pada jalal,karena ia juga merasakan hal yang sama dengan jalal. Lalu jalal berbisik ditelinga jodha,
"bisakah kita lanjutkan ini didalam, sayang,??? Aku menagih janji mu, "
Jodha hanya memberikan jawaban melalui ciuman lembut yang ia daratkan dibibir jalal. Jalal terpaku karena jodha menciumnya lebih dulu,lalu ia membalas ciuman jodha. Mereka berciuman sambil berjalan menuju kearah tempat tidur. Hingga kaki jodha menyentuh pinggiran ranjang,tanpa melepas tautan bibir mereka, jalal menahan tubuh jodha yang perlahan mulai rebahan. Jalal menindih tubuh jodha yang sudah terbaring ditempat tidur,ia kembali membenamkan wajahnya keleher jodha,memiringkan kepalanya, mengecup dan mulai menjilat leher itu.
"eggghhh,,," desahan keluar dari mulut jodha saat lehernya digigit pelan dan dihisap oleh jalal. Meninggalkan kissmark yang tidak akan hilang dalam waktu cepat.
Jodha semakin memejamkan matanya dan menegadahkan kepalanya saat jalal memberikan kecupan-kecupan ringan dileher jenjangnya. Karena jodha menengadahkan lehernya itu membuat akses jalal yang sedang membuat kissmark itu lebih mudah.
Satu tangan jalal sudah merayap masuk ke dalam gaun tidur jodha,meraba-raba dan mencari titik sensitif yang ada didalam sana. Jodha semakin melayang saat tangan jalal menemukannya dan dengan lincah bermain disana. Tangan jodha yang tadinya hanya mencengkram erat pada sprei kini beralih dan menelusupkan jemarinya pada rambut gondrong jalal,meremasnya kuat dan desahan dari mulutnya mengalun merdu mengisi ruang kamar itu.
Jalal kembali menghentikan aktivitasnya, ia mengangkat kepalanya.
"apa aku menyakiti mu,???" suara berat dan serak karena sarat oleh nafsu.
"apa aku terlihat seperti orang sedang tersakiti,???" jodha terlihat ngos-ngosan seperti orang yang baru saja berlari berkilo-kilo meter. Jalal tersenyum,
"kau selalu menjawab pertanyaan ku dengan pertanyaan juga, sayang, " jalal bertumpu pada kedua sikunya.
Wajah mereka sangat dekat hingga bisa merasakan hembusan nafas masing-masing menerpa diwajah mereka saat sedang bicara. Jodha mengalungkan tangannya dileher jalal, dan dengan kekuatan penuh ia membalikkan keadaan. Hingga kini posisinya ia lah yang menindih jalal sekarang,
"lalu jawaban seperti apa yang kau ingin kan dariku, hah,??? ah,,yaa. Kau mungkin ingin mendengar aku menjawab seperti ini "tidak suami ku,,,kau tidak menyakiti ku. Kau hanya memberikan kenikmatan padaku," jodha membuat nada suaranya seseksi mungkin dan disertai dengan desahan-desahan ringan, hingga membuat jalal ternganga tak percaya.
Kini giliran jalal yang membalikan tubuh istrinya, dan kembali ia menindih jodha.
"benarkah ini jodha ,istriku,??? Istri ku yang dulunya malu-malu saat aku mencumbunya, tapi sekarang dengan beraninya ia berbicara seperti tadi,??? Oh,jodha,,,kau pasti sangat merindukan sentuhan suami mu ini ,hingga membuat mu tidak bisa menahan lagi, iya kan,???" jalal tersenyum menggoda.
Jodha merona seperti kepiting rebus, tapi ia dengan berani mulai meraba dada suaminya yang telanjang. Jalal mengerang saat merasakan tangan lembut jodha mengelus otot-otot abs nya. Jodha sangat menikmati mimik wajah suaminya yang merah padam menahan gejolak birahi.
"kau tahu,??? Saat ku dalam keadaan kritis tak sadarkan diri,!!! Aku seakan kehilangan semangat hidup, " jodha lebih berani lagi,ia mengecupi dada bidang jalal membuat jalal harus berjuang keras menahan libidonya. Siku yang ia gunakan sebagai penompang tubuhnya mulai gemetar dan memaksanya harus berbaring bersisian dengan jodha. Jodha masih gencar menghiasi dada suaminya,banyak kissmark telah terukir disitu.
Jalal hampir dititik terendah pada pertahanannya, dengan perlahan ia sedikit menarik tubuhnya hingga kegiatan jodha terhenti. Nafas mereka semakin memburu, jalal menarik dagu jodha menggunakan jarinya lalu melumat lembut bibir jodha,
"sekarang aku sudah ada disini. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu lagi, sayang, " jalal menyampirkan anak rambut jodha yang mengganggu diwajahnya. Jodha menitikkan air mata,jalal heran dan bingung melihat jodha menangis,
"hei,,,sayang. Ada apa,??? Kenapa kau menangis,???" jalal menarik jodha kedalam pelukannya. Jodha mulai terisak pelan,
"aku,,hikss,,,hikss,,aku hanya tidak menyangka ,kalau aku masih bisa merasakan pelukan hangat ini. Aku hampir putus asa saat itu,aku takut tidak akan bisa lagi merasakan belaian tangan mu,mendengar degup jantung mu, " jodha membenamkan wajahnya hingga air matanya membasahi dada jalal. Jalal mengecup puncuk kepala istrinya,
"cup,,cup,,cuup,,,!!! Sudahlah,jangan menangis lagi,aku tidak tahan melihat kau menangis. Itu mengingatkan ku saat dulu aku sering menyakiti mu, diamlah jodha, " jalal benar-benar tidak tahan kalau melihat jodha menangis. Hatinya akan sakit karena teringat bagaimana dulu ia begitu sering membuat jodha menangis. Jodha menengadahkan wajahnya yang basah oleh air mata,
"ngomong-ngomong,," jodha cegukan karena habis menangis,jadi membuat ia terbata-bata saat bicara,
"kau,,kau mau punya anak berapa,??? (LOL,,,ngakak nih).
Jalal membulatkan matanya,lalu tertawa terbahak-bahak. Lama jalal tidak dapat menghentikkan tawanya, hingga jodha jadi kesal dan mempoutkan bibirnya lucu.
"apa aku salah menanyakannya, " geruru jodha. Jalal dengan susah payah menghentikan tawanya,
"tidak sayang. Aku hanya tidak menyangka kau akan menanyakn hal itu, " jalal masih dengan tertawa meski tidak terlalu ngakak.
"kalu aku minta anak kembar,!!! Apakau mau memberikan aku anak dua sekaligus ,sayang,???
"APA,,???" jodha sedikit berteriak,hingga membuat jalal harus menjauhkan kepalanya sedikit kebelakang, jalal kembali tertawa dan mengatakan kalau ia hanya bercanda jadi jodha jangan terlalu terkejut seperti itu. Setelah beberapa lama mereka bercanda ,kini suasana mulai kembali intim.
Jalal dengan perlahan melumat bibir jodha,jodha kembali membalas lumatan suaminya. Sesekali mereka saling menghisap lidah masing-masing saling bertukar saliva. Jalal melepaskan bibir jodha,tangannya menarik perlahan tali gaun tidur itu kesamping hingga membuat kulit mulus itu terekspose,kini lidahnya bergliriya dileher jodha ,menjilat menghisap dan menyedot. Hingga membuat jodha mendesah nikmat, suara desahan jodha membuatnya jalal semakin bernafsu.
Jodha memejamkan matanya, tangannya pun mengacak-acak rambut jalal. Karena tidak tahan dengan sensasi yang ia rasakan, jodha seakan tak berdaya. Ciuman jalal terasa begitu luar biasa, hingga membuatnya hilang akal. Otaknya sudah tak bisa berpikir lagi ,seakan mati rasa tubuhnya pun tak bisa bergerak, karena yang bisa ia rasakan hanya kenikmatan yang menjalar di seiap denyut nadinya. Mereka berdua semakin lepas kendali, jalal sudah tidak sanggup menahan hasratnya. Sesuatu sudah benar-benar terasa mendesaknya untuk berbuat labih. Begitu juga dengan jodha, ia tidak sanggup untuk menolak semua sentihan jalal yang semakin menggila sekarang ini. Hingga tangan jalal meraba-raba mencari sesuatu, "CTEKK" lampu pun padam dan hanya cahaya rembulan yang memberi sedikit penerangan didalam kamar itu,disertai bunyi desahan dan erangan kenikmatan yang saling bersahutan semakin keras terdengar sebagai tanda "permainan" mereka semakin memanas.
*****
Malam itu,sebuah acara akbar digelar dirumah jodha dan jalal. Itu adalah pesta perayaan ulang tahun pernikahan pertama jodha dan jalal,setahun telah berlalu. Kepahitan, duka dan air mata telah berakhir, semua telah terhapuskan oleh cinta. CINTA SEJATI yang tak penah goyah walau badai sebesar apapun datang menghantam.
"jodha,,aku senang. Akhirnya ,kau bisa merasakan buah manis dari penderitaan mu selama ini, " moti sedang merias wajah jodha.
"tapi moti,,,kebahagiaan ini belum lengkap rasanya. Karena belum ada sosok bayi mungil diantara kami yang akan membuat kami merasa lebih sempurna. Tapi aku tidak ingin serakah, suami ku begitu mencintai ku,dia tidak pernah mempermasalahkan tentang itu. Dia mengatakan kalau kami harus sabar dan kalau saatnya telah tiba, maka kami akan segera dikaruniai seorang anak, " jodha mencoba tersenyum untuk mengurangi kegundahannya.
"itu benar jodha. Kau harus bersabar,,,mungkin saat ini kalian belum dipercayakan untuk menjadi orang tua untuk anak-anak kalian, " moti mengelus rambut panjang sahabatnya itu. Jodha masih nampak sedih,tapi ia segera teringat sesuatu dan sebuah senyuman terukir dibibirnya,
"hey,,,bagaiman hubungan mu dengan yabhan,??? Apa kalian belum berniat untuk melangsungkan pernikahan,???
Moti tersipu, "belum jodha. Yabhan bilang, dia ingin mandiri dulu dan tidak ingin bergantung pada orang tuanya terus. Jadi dia meminta ku untuk bersabar sebentar lagi, "
Jodha mengatakan kalau pemikiran yabhan itu patut dipuji. Percakapan mereka terhenti karena pintu kamar ditotok seseorang,
"sayang,,apa kau sudah siap,???" suara jalal terdengar diluar. Kemudian pintu terbuka dan jalal terpana melihat penampilan istrinya. Walaupun itu bukan kali pertama ia melihat jodha dengan dandanan yang begitu cantik. Tapi tetap saja ia terpesona olehnya,
"iya,,aku sudah siap ,sayang" jodha berdiri dan berjalan anggun kearah suaminya diikuti moti yang berjalan dibelakangnya.
"cepatlah kalian turun. Para tamu pasti sudah yang menantikan kehadira kalian sebagai pemilik acara, " ujar moti.
Maka jalal dan jodha pun turun membaur bersama para tamu serta undangan. Hamida dan kedua orang tua jodha,meinawati dan bharmal terlihat bahagia melihat kebahgiaan putra putri mereka.
"kak sujamal,terima kasih atas kerja keras mu. Berkat bantuan darimu-lah hingga perusahaan itu bisa kembali pada kami, " ujar jalal sambil merangkul sujamal. Sujamal mengatakan kalau adalah suatu keharusan kalau sesama saudara saling menolong.
Acara puncak pun tiba, MC meminta jalal untuk memberikan sedikit sambutan pada tamu dan undangan. Jalal yang didampingi jodha disisinya memberikan sepatah dua patah kata, selesai ia memberikan sambutan maka semua orang berteriak agar jalal mencium jodha. Wajah keduanya jadi merona dan dengan perlahan jalal menarik jodha kedalam pelukannya kemudian mencium hangat bibir jodha, sontak semua orang bertepuk tangan dengan gembira. Acara dilanjutkan dengan makan-makan dan setelah malam semakin larut tamu-tamu mulai meninggalkan tempat kediaman jodha dan jalal.
Jodha setengah berlari kembali kekamarnya, kepalanya pusing dan perutnya sangat mual. Jalal panik dan merasa khawatir,takut kalau-kalau jodha sakit. Setibanya dikamar jodha langsung menuju kekamar mandi dan jalal pun mengikutinya,
"hooeekkk,,,hooeekkk,,," jodha muntah-muntah di wasstafel. Jalal mengurut dan menepuk-nepuk punggung serta tengkuk jodha,supaya jodha sedikit lebih nyaman.
"kita kerumah sakit saja yah. Aku takut kau kenapa-napa, " pinta jalal dengan raut wajah sarat akan kekhawatiran. Jodha menolak dan mengatakan baik-baik saja ,tapi jalal memaksa. Jodha mengatakan ia mau kerumah sakit tapi tidak sekarang karena hari sudah malam. Jalal dengan terpaksa menuruti jodha.
Pagi harinya,mereka pergi kerumah sakit. Karena pagi itu jodha semakin parah muntah-muntahnya, jalal mengemudikan lamborghini green miliknya dengan agak kencang. Membuat jodha harus mengomel panjang pendek baru ia mau mengurangi kecepatanya. Dokter sambil tersenyum-senyum mengabarkan berita gembira itu,
"selamat ,tuan. Istri anda sedang mengandung, "
Jalal dan jodha saling pandang dengan raut wajah penuh suka cita. Akhirnya, mereka dipercayakan juga untuk menjadi orang tua untuk anak-anak mereka.
"THE END"




